Jumat, 04 November 2016

Mental Accounting Investor di Bursa Efek Indonesia

MF. Arrozi Adhikara 
Dosen Fakultas Ekonomi
Universitas Esa Unggul


Pasar modal didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta (Suad, 1996). Pasar modal sebagai wahana sektor keua-ngan di luar perbankan mempunyai daya tarik, pertama, diharapkan menjadi sarana alternatif untuk memperoleh penghimpunan dana secara cepat dan murah dari investor maupun kreditor melalui investasi berupa aktiva finansial seperti pembelian saham, obligasi, warrant, opsi, dan serti-fikat danareksa. Kedua, pasar modal memung-kinkan para investor mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi risikonya sehingga investor memungkinkan untuk melakukan diversifikasi investasi, membentuk portfolio (gabu-ngan dari berbagai investasi) sesuai dengan risiko yang investor tanggung serta tingkat keuntungan yang mereka harapkan. Dalam keadaan pasar modal yang efisien, hubungan yang positif antara risiko dan keuntungan diharapkan akan terjadi (Suad, 1996). Ketiga, investasi dalam aktiva finan-sial mempunyai daya tarik likuiditas yaitu sekuritas dapat diperjualbelikan dengan segera dan investor dapat melakukan reposisi investasi sekuritasnya setiap saat. Misalnya, investor melakukan investasi sekuritas dalam bidang food and beverage hari ini, kemudian melakukan penggantian sekuritas dengan investasi dalam bidang industri perbankan atau industri tobacco pada keesokan harinya, lusa, ming-gu depan, atau bulan depannya. Dengan pasar modal ini, berarti semakin terbukanya kesempatan bagi investor untuk melakukan diversifikasi pada in-vestasi yang dianggap paling layak.
Pasar modal Indonesia termasuk emerging market, yaitu pasar yang diindikasikan sebagai pasar modal yang masih lemah (Prabowo, 2000). Ciri pasar ini adalah: pertama,  investor melakukan reaksi terhadap informasi secara lugu (naive) dan tidak canggih (unsophisticated). Investor mempu-nyai kemampuan terbatas dalam mengartikan, me-nganalisis, dan menginterpretasikan informasi yang mereka terima. Karena itu, investor cenderung menggunakan rumor, spekulatif, dan berperilaku mass behaviour. Investor yang bergabung dalam suatu massa, akan kehilangan rasionalitas kolektif, karena penentuan harga saham dalam komoditas perdagangan saham merupakan manifestasi dari faktor psikologis dan emosi investor (Sjahrir, 1995; 229). Akibatnya, seringkali investor  melakukan pe-ngambilan keputusan yang salah sehingga sekuritas bersangkutan dinilai secara tidak tepat dan sering-kali pasar tampaknya tersesat (fooled) oleh infor-masi yang harus diinterpretasikan. Kedua, Seku-ritas di pasar modal tergolong dalam risky assets yaitu aktiva keuangan yang beresiko dan investor tidak tahu dengan pasti hasil yang akan dipe-rolehnya. Investor hanya dapat memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dari invest-tasinya, dan seberapa jauh kemungkinan hasil yang sebenarnya nanti akan menyimpang dari hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, assets ini umumnya memberikan return lebih tinggi, apakah return itu positif atau negatif. Karenanya, wajar bila investor mempersoalkan perlindungan dari risiko kerugian tersebut. Ketiga, peranan laporan keuangan seba-gai pendukung pengambilan keputusan investasi  belum digunakan secara optimal dan penggu-naannya relatif kecil di pasar modal Indonesia (Prabowo, 2000). Hal ini terjadi karena investor ber-perilaku sebagai penggoreng saham dalam mengambil taking profit melalui analisis teknikal untuk memperhatikan capital gain, dan menunjukkan investor menyukai investasi jangka pendek, perilaku spekulatif, serta melakukan strategi aktif dengan memperhatikan faktor makro seperti isu, rumor, politik, konspirasi, insider trading, regulasi, anomali pasar, dan lain-lain. Kecenderungannya adalah laporan keuangan tidak dimanfaatkan de-ngan baik dan hanya sepintas melihat kejadian  perusahaan  pada tindakan kebijakan khusus seperti corporate action.  Keempat, motivasi dalam mencari return terjadi pergeseran (Paimpo dan Didi, 2000). Pergeseran ini disebabkan pengalaman melakukan investasi berdasarkan rumor me-nyebabkan kerugian. Sedangkan melalui analisis fundamental, investor dapat mempelajari seluruh aspek fundamental perusahaan seperti performance perusahaan, laporan keuangan, prospek emiten di masa datang, aksi korporasi mulai dari rencana ekspansi usaha dan terutama rencana pembagian dividen, itu yang diharapkan investor (Tim BEJ, 2006).
Mencermati hal tersebut di atas, menunjukkan bahwa proses investasi tergantung pada psikologi massa dan cenderung menggunakan rumor untuk bertindak spekulatif. Indikasinya ada-lah investor bersikap unsophisticated serta naive (Prabowo, 2000) dan menunjukkan bahwa investor cenderung tidak mempunyai pemahaman penge-tahuan financial mengenai signal pengungkapan informasi perusahaan karena mempunyai kemam-puan cognitive terbatas (limitation cognitive) dalam mengartikan dan menginterpretasikan informasi yang mereka terima. Akibat hal tersebut diatas akan memberikan konsekwensi negatif, yaitu: pertama, menyesatkan investor untuk merevisi keyakinan (belief) awal tentang expected values yang sudah ditentukannya dengan interpretasi informasi akun-tansi tersebut; kedua, memberikan perilaku in-vestor menjadi impatience, loss control, dan lebih banyak bersikap menuruti kata hati (impulsive) karena mempunyai persepsi salah tafsir pada obyek yang diinterpretasikan. Sehingga keputusan inves-tasi akan banyak mengalami risiko yang tinggi; ketiga, kesalahan dalam melakukan prediksi ter-hadap subyektifitas return dan risk; keempat, me-nyesatkan investor dalam pengambilan keputusan yang bersifat rasional karena investor mengambil keputusan yang salah karena sekuritas bersang-kutan dinilai secara tidak tepat.
Proses pengambilan keputusan investasi di pasar modal bagi investor bersifat sophisticated dan rasional, artinya investor akan memilih kesempatan investasi yang memberikan utilitas yang diharapkan tertinggi (maksimalisasi utilitas) serta memberikan kesejahteraan kepadanya (Scott, 2003). Maksi-malisasi utilitas menunjukkan tingkat subyektifitas return yang diharapkan dari kesempatan investasi pada saham individu maupun portofolio saham serta tergantung pada kapasitas cognitive masing-masing investor sesuai dengan preferensi investor. Investor yang sophisticated harus mempunyai kemampuan dalam pemikiran, pertimbangan, imajinasi serta mempunyai kecakapan dalam pemrosesan infor-masi, menerapkan pengetahuan investasi, dan melakukan perubahan preferensi investasi. Proses ini merupakan proses cognitive yang dilakukan investor melalui memori, attention, persepsi, aksi, pemecahan masalah, mental imagery, human infor-mation processing, dan keyakinan (beliefs) yang kuat atas investasi tersebut (Wikipedia, 2008).
Hal diatas diperlukan investor untuk meng-alokasikan dananya ke dalam tiap-tiap sekuritas yang dipilih dalam investasinya. Tujuannya adalah  melakukan estimasi return dan risk dari tiap-tiap sekuritas investasi. Tiap-tiap sekuritas dibandingkan nilai return dan risknya kemudian diurutkan nilai return dan risk dari yang tertinggi sampai dengan yang terendah (Suad, 1996:110). Hal ini digunakan investor untuk menetapkan keyakinan awal (initial beliefs) pemilihan sekuritas yang ditetapkan sebagai kandidat dalam pembentukan portofolio investasi berdasarkan preferensi return dan risk. Proses ini disebut mental accounting dan pelaksanaannya menggunakan anchoring atau narrow framing, yaitu pengungkapan suatu fakta dalam investasi pada return/gains dan risk/losses (Tversky dan Kahneman, 1981; Thaler, 1985; Barberis dan Huang, 2001). Hal ini menunjukkan preferensi in-vestor terhadap return dan risk dari sekuritas.
Barberis dan Huang (2001) mempertimbangkan bentuk mental accounting, yaitu investor peduli mengenai return/gains dan risk/losses dalam nilai saham individu, serta investor peduli mengenai return/gains dan risk/losses dalam nilai seluruh portofolio. Perilaku investasi tersebut me-nunjukkan investor mempunyai dua kemungkinan sikap, pertama, sikap preferensi risk untuk menerima resiko (risk seeker), sikap menghindari resiko (risk averter), ataukah sikap netral (risk neutral). Kedua, sikap preferensi untuk menerima return dalam bentuk capital gain, deviden, ataukah keduanya yaitu capital gain dan deviden (Djunaidi, 1990). Untuk memperlihatkan perilaku investor sebagai proksi investor dalam menyikapi return dan risk tersebut, maka framing digunakan untuk men-jelaskan preferensi investor. Sehingga mengha-silkan sikap yang cenderung menerima gains/return dalam frame positif ataukah cenderung menerima losses/risk dalam frame negatif ataukah menyikapi keduanya secara seimbang.
Namun dalam pengambilan keputusan di pasar modal dalam kondisi yang under-uncertainty sikap irrasisional bagi investor lebih cenderung digunakan karena terdapat kemungkinan investor akan mendapatkan abnormal return. Beberapa penelitian menemukan bahwa asumsi rasionalitas sering dilanggar karena decision framing yang diadopsi oleh pembuat keputusan dan frame yang diadopsi tergantung pada formulasi masalah yang dihadapi, aspek cognitive, norma, kebiasaan, dan karakteristik pengambil keputusan itu sendiri. Frame yang diadopsi tergantung pada fenomena cognitive investor dalam menentukan dan mem-pengaruhi keputusannya (Tversky & Kahneman, 1981) yang disebabkan oleh informasi yang tersedia dan bagaimana informasi diinterprestasikan.
Mental Accounting
Konsep mental accounting merujuk pada cara investor membingkai (frame) keputusan keua-ngannya dan mengevaluasi keputusan (outcomes) investasinya (Thaler, 1985) serta merujuk pada cara individu memutuskan assets sekarang dan masa datang menjadi terpisah, bagian-bagian yang tidak dapat dioperkan (Nofsinger, 2005). Konsep ini me-nyediakan suatu deskripsi luas melalui proses kognitif dimana orang-orang merasa, mengkatego-risasi, mengevaluasi, dan mengikutsertakan dalam aktivitas keuangan. Mental accounting mempunyai pokok isi individu menentukan tingkat utilitas yang berbeda pada tiap-tiap kelompok asset, yang mana mempengaruhi keputusan konsumsi mereka dan perilaku-perilaku lainnya. Konsep ini menyediakan deskripsi melalui proses kognitif dimana individu merasa, mengkategorisasi, mengevaluasi, dan mengikutsertakan dalam aktivitas keuangan dengan bentuk mental accounting adalah kategorisasi dan pelabelan. Manifestasinya adalah individu menge-lompokkan pengeluaran dalam anggaran (contoh: makanan, perumahan), distribusi kesejahteraan dalam rekening (contoh: pensiun, asuransi), dan membagi sumber penghasilan dalam kategori (contoh: penghasilan regular, uang yang menang dari loterei, tabungan, investasi). Proses akuntansi dari mental accounting menyediakan tujuan pen-ting, seperti keputusan pemfasilitasan yang meng-gunakan dana kita, dan penyediaan fungsi pengen-dalian diri melalui aturan pengeluaran ke dalam penempatan dana di dalam ambang batas accounts.
Mental accounting investor memperhatikan pada gains dan losses (Barberis dan Huang, 2001). Pelaksanaan mental accounting dari investor de-ngan menggunakan narrow framing, yaitu mem-bingkai (frame) keputusan keuangannya dengan mengungkapkan perhatian pada gains/return atau losses/risk dan mengevaluasi keputusan (outcomes) investasinya, sehingga individu membingkai secara subyektif suatu transaksi dalam pikirannya untuk menentukan utilitas yang mereka terima.  Hal ini mencerminkan suatu perhatian pada sumberdaya non konsumsi dari utility, dimana pengalaman alamiah melebihi narrow framed gains and losses. Selanjutnya, investor mempertimbangkan dua ben-tuk mental accounting, pertama, investor peduli mengenai gains and losses dalam nilai saham individu (akuntansi saham individu), dan kedua, investor peduli mengenai gains and losses dalam nilai seluruh portfolio (akuntansi portofolio), dan menunjukkan bahwa bentuk mental accounting mempengaruhi harga assets dalam suatu cara yang signifikan. Perilaku investasi tersebut menunjukkan investor mempunyai dua kemungkinan sikap, pertama, sikap preferensi risk untuk menerima resiko (risk seeker), sikap menghindari resiko (risk averter), ataukah sikap netral (risk neutral). Kedua, sikap preferensi untuk menerima return dalam ben-tuk capital gain, deviden, ataukah keduanya yaitu capital gain dan deviden (Djunaidi, 1990). Untuk memperlihatkan perilaku investor sebagai proksi investor dalam menyikapi return dan risk tersebut, maka framing digunakan untuk menjelaskan prefe-rensi investor tersebut. Sehingga menghasilkan sikap yang cenderung menerima gains/return dalam frame positif ataukah cenderung menerima losses/ risk dalam frame negatif ataukah menyikapi kedua-nya secara seimbang.
Model asumsi mengenai preferensi investor (Markowitz, 1952) hanya didasarkan pada expected return dan risk dari portofolio yang secara implisit menganggap investor mempunyai fungsi utilitas yang sama. Tetapi pada kenyataannya, tiap-tiap investor mempunyai fungsi utilitas yang berbeda (Hartono, 2000:192-193). Jika preferensi investor terhadap portofolio berbeda karena investor mem-punyai fungsi utilitas yang berbeda, portofolio optimal untuk masing-masing investor akan dapat berbeda. Model Markowitz tidak mempertimbangkan hal ini, karena fokusnya terletak pada nilai portofolio dengan resiko terkecil untuk expected return tertentu. Tetapi preferensi investor berbeda-beda. Investor yang risk averse akan memilih sesuai tang-gapan model Markowitz, sedangkan investor yang risk seeker akan memilih resiko yang tinggi dengan implikasi akan mendapatkan return yang tinggi pula. Pemilihan portofolio  sesuai dengan preferensi in-vesttor, merupakan portofolio yang efisien yang masih berada di efficient set. Portofolio mana yang akan dipilih oleh investor tergantung dari fungsi utilitasnya masing-masing. Portofolio optimal untuk tiap-tiap investor terletak pada titik persinggungan antara fungsi utilitas investor dengan efficient set.
Berdasarkan preferensi, investor menggunakan beberapa aksioma dalam proses pengambilan kepu-tusan investasi berdasarkan model utilitas yang diharapkan (expected utility model) (Suad, 1996) yang merupakan model yang mendasari pemilihan investasi pada portofolio dalam konteks mean-variance model. Expected utility model secara historis memberikan model normatif dan deskriptif untuk pembuatan keputusan yang mengandung risiko. Teori ini beranggapan bahwa pembuat kepu-tusan adalah seorang yang rasional. Pembuat kepu-tusan dianggap mampu memproses informasi dengan sempurna dalam menentukan pilihan yang terbaik. Asumsi rasionalitas juga mewajibkan adanya konsistensi dan koherensi dalam keputusan yang dibuat. Aksioma pengambilan keputusan inves-tasi tersebut yaitu:
  • Investor mampu memilih berbagai alternatif dengan menyusun peringkat dari berbagai alternatif-alternatif sehingga bisa diambil keputusan.
  • Setiap peringkat alternatif-alternatif tersebut bersifat transitif. Artinya, kalau investasi A lebih disukai dari pada B, dan B lebih disukai dari pada C, maka A tentu     lebih disukai dari pada C.
  • Para pemodal akan memperhatikan risiko alter-natif yang dipertimbangkan, dan tidak mem-perhatikan sifat alternatif-alternatif tersebut. Sebagai misal, investor     tidak akan memper-timbangkan apakah suatu kesempatan inves-tasi lebih padat modal ataukah lebih padat karya.
  • Para investor mampu menentukan certainty equivalent dari setiap investasi yang tidak pasti. Certainty equivalent suatu investasi me-nunjukkan nilai pasti yang     ekuivalen dengan nilai pengharapan dari investasi tersebut.
Keempat aksioma di atas bisa digunakan untuk menyusun fungsi utilitas dari investor sebagai dasar untuk model sikap investor terhadap risiko, dengan tujuan untuk memaksimumkan indeks utilitas yang diharapkan pada income (discounted interest rate). Penyusunan fungsi utilitas digunakan untuk memilih investasi yang mempunyai unsur ketidakpastian. Investor akan memilih investasi-investasi berdasarkan return yang diharapkan pada tingkat yang maksimal atau tinggi. Investor yang satu dengan investor yang lain mungkin mempunyai fungsi utilitas yang berbeda, dan karenanya bisa memilih kesempatan investasi yang berbeda atau-kah sama. Fungsi utilitas tersebut bersifat indivi-dual, artinya bisa berbeda antara pemodal yang satu dengan pemodal lainnya. Perbedaan fungsi utilitas investor dapat digambarkan melalui indiffe-rence curve bahwa investor tidak akan merasa berbeda sepanjang investor berada pada kurva ter-sebut. Tingkat utilitas investor akan berbeda satu sama lain pada tingkat resiko yang sama, tetapi investor akan lebih menyukai untuk memilih tingkat utilitas pada return yang lebih tinggi. Hal tersebut menunjukkan preferensi risiko bagi investor (Suad, 1996:118).
Konsep mental accounting sama dengan yang digunakan dalan teori prospek (Kahneman dan Tversky, 1979) dan banyak mengadopsi terori ini sebagai fungsi nilai dalam analisisnya. Teori prospek menggambarkan bagaimana investor membingkai (frame) dan menilai suatu keputusan dalam keti-dakpastian. Pertama, investor membingkai (frame) pilihan dalam bentuk keuntungan dan kerugian potensial relatif terhadap suatu titik referen spesifik. Kedua, Investor menilai keuntungan atau kerugian berkenaan pada suatu fungsi bentuk-S sepeti dalam gambar 1. Gunanya, sebagai penjelasan alternatif dalam pengambilan keputusan. Elemen utama teori prospek adalah fungsi nilai bentuk-S yang concave (risk averse) dalam domain keuntungan dan convex (risk loving) dalam domain kerugian, keduanya mengukur relatif terhadap titik referen yang bersifat netral dengan nilai sebesar 0. Mental accounting menyediakan suatu fondasi untuk cara dimana pem-buat keputusan merancang titik referen pada accounts yang menentukan keuntungan dan keru-gian. Ide utama adalah pembuat keputusan cede-rung memisahkan tipe berbeda dari spekulasi kedalam account terpisah, dan kemudian mempergunakan teori prospek pada tiap-tiap account oleh pengabaian interaksi yang memungkinkan.
Berkaitan dengan perilaku pengambilan keputusan Investor di Indonesia, bahwa pada framing positif perilaku orang Indonesia dapat berbeda dengan orang asing. Peneliti menarik pandangan bahwa hal ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya yaitu, perbedaan budaya sehingga menyebabkan perbedaan sikap dalam pengambilan keputusan investasi, serta keterbiasaan mene-rima informasi orang Indonesia dengan framing positif yang dapat mempengaruhi kepribadian, perilaku orang, dan persepsi seseorang.
Daftar Pustaka
Barberis, Nicholas, and Huang, Ming, “Mental Accounting, Loss Aversion, and Individual Stock Returns”, The Journal of Finance, Vol. LVI, No. 4, August, 2001.
Djunaidi, A., “Investasi Melalui Instrumen Pasar Modal: Mengapa Dividen Lebih Penting”, In-fo Pasar Modal, Juni, Jakarta, 1990.
Gudono dan Hartadi, Bambang, „Apakah Teori Prospek Tepat untuk Kasus di Indonesia? Sebuah Replikasi Penelitian Tversky dan
Kahneman“, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 1, No. 1, Januari 1998.
Hartono, M., Jogiyanto, “Teori Portofolio dan Ana-lisis Investasi”, Edisi Pertama, BPFE Yogyakarta, 2000.
Harvey, J.T., “Long Term Exchange Rate Movements: The Role of The Fundamentals In Neoclasical Models of Exchange Rates”, Journal of Economics Issue, 30(2), 1996.
Kahneman, D. and A. Tversky, “Prospect Theory: An Analysis of Decision Under Risk”, Econo-metrica, March, 1979.
Karim, J; P.E. Johnson, and R.E. Berryman, “Detecting Framing Effects in Financial Statements”, Contemporary Accounting Research, 12(1), 1995.
Lim, Sonya, SeongYeon, “Do Investor Integrate Losses and Segregate Gains? Mental Accounting and Investor Trading Decisions”, Working Paper, SSRN, 2004.
Markowitz, H.M., “Portofolio Selection”, Journal of Finance, March, 1952.
Nofsinger, John R., “The Psychology of Investing”, Pearson Education, Second Ed., Upper Saddle River, New Jersey, 2000.
Paimpo, Didi, “Bukan waktunya lagi mengandalkan rumor”, Media Akuntansi, No. 10, Tahun VII, Juni, Jakarta, 2000.
Prabowo, Tommy, ”Mengharapkan Laporan Keua-ngan Plus”, Media Akuntansi, No. 10, Thn. VII, Juni, Jakarta, 2000.
Prabowo, Tommy, “Dissemination of Information di Pasar Modal”, Media Akuntansi, No. 10, Thn. VII, Juni, Jakarta, 2000.
Schoemaker, P., “The Expected Utility Model : Its Variance, purposes, evidence and limita-tions”, Journal of Economic Literature 20 (June),1982.
Scott, William R., “Financial Accounting Theory”, 3rd ed, Pearson Education Canada Inc., Toronto, 2003.
Sjahrir, “Pasar Modal Indonesia”, Cetakan pertama, Intermedia Jakarta, 1995.
Suad, Husnan, “Dasar-Dasar Teori Portfolio”, Edisi Kedua, Penerbit UPP AMP YKPN, Yogyakarta, 1996.
Thaler, Richard H., “Mental Accounting and Consumer Choice”, Marketing Science 4, 1985.
Tim BEJ, “Berburu Dividen, Lihat Dulu Jadwalnya – Ada faktor psikologis, menjelang pembagian dividen harga saham akan naik”, Republika, Senin 17 April 2006.
Tversky, A., dan D. Kahneman, “The Framing of Decisions and The Psychology of Choice”, Science,  211 (30), 1981.
White, R.A.; P.D. Harrison, and A. Harrell, “The Impact of Income Tax Witholding on Taxpayer Compliance: Further Empirical Evidence”, The Journal of the American Taxation Association, No. 3, 1993.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Realted Posts