Senin, 17 Juli 2017

Selamat Berjuang Tim Delegasi Esa Unggul di Ajang MTQN XV





Mussabaqqoh Tilawatil Qur'an
Mussabaqqoh Tilawatil Qur’an

Selamat Berjuang Tim Delegasi Esa Unggul di Ajang MTQN XV

Salah satu tujuan Pendidikan Nasional, sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), adalah untuk mencetak manusia Indonesia yang berilmu pengetahuan, beriman, bertakwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, disiplin, serta sehat jasmani dan rohani.
Selain itu juga dalam amanah Undang-Undang tersebut disebutkan mengenai pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, dalam hal ini pembangunan bina mental dan spiritualnya. Tentunya pembangunan mental dan spiritual itu dapat diwujudkan melalui metode, strategi, dan kegiatan yang tepat dan bernilai manfaat.
Mahasiswa sebagai generasi penerus masa depan bangsa, merupakan sumber daya manusia yang perlu ditempa dengan baik dan serius, tidak hanya sebatas penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologinya, akan tetapi juga pengembangan karakter dan kepribadiannya. Salah satu kegiatan yang dipandang strategis untuk mewujudkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam tujuan Pendidikan Nasional di atas adalah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Mahasiswa Tingkat Nasional.
Dalam konteks inilah Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (BELMAWA), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (RISTEK dan DIKTI) bekerja sama dengan Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan even akbar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Mahasiswa Nasional XV Tahun 2017.
Pada MTQMN XV tahun ini mengambil tema “Melalui MTQ Mahasiswa Nasional XV Tahun 2017 kita integrasikan intelektualitas dan spiritualitas untuk mencetak calon pemimpin Indonesia yang cerdas dan bermoral demi mewujudkan baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.”
Dari tema yang diambil pada ajang MTQMN tahun ini diharapkan dapat lahir pemimpin yang memiliki nilai-nilai spiritualitas dan intelektualitas dalam rangka mewujudkan negara yang aman, damai dan senantiasa mendapatkan ampunan dari Allah SWT
Untuk itu kami memohon doa dan dukungan dari segenap civitas akademika Esa Unggul agar nantinya tim MTQ Esa Unggul dapat sukses meraih hasil terbaik, dalam berkompetisi di ajang Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional XV di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang tanggal 28 Juli – 4 Agustus 2017.
Semoga dengan penampilan kami di MTQMN XV di Malang dapat bermanfaat dan mampu meningkatkan reputasi almamater kami tercinta yakni Universitas Esa Unggul.

Sekian
Terima Kasih
Ketua Kafilah MTQMN XV Universitas Esa Unggul
Rahmadadi, SE
#MTQMNXVUBUM
#KafilahUEU
#InsyaAllahberkah

Read More..

Dukung Peningkatan Kualitas Manusia di Indonesia, Esa Unggul berikan Beasiswa kepada Siswa dari Sabang Hingga Merauke


Foto Bareng Bersama Mahasiswa Peraih Beasiswa Esa Unggul
Foto Bareng Bersama Mahasiswa Peraih Beasiswa Esa Unggul
Esaunggul.ac.id, Jakarta Barat, Sebagai bagian dari peningkatan kualitas manusia Indonesia, Esa Unggul memberikan beasiswa kepada para putra-putri Indonesia yang memiliki potensi membangun di berbagai daerah. Beasiswa Esa Unggul sendiri terbagi menjadi tiga kategori yakni beasiswa Unggulan 100 persen, beasiswa prestasi dan beasiswa Indonesia Timur.
Pada hari kamis (13/07), Esa Unggul mengadakan penandatanganan perjanian beeasiswa oleh orang tua dan siswa yang mendapatkan beasiswa. Sebanyak 97 beasiswa dibagikan kepada siswa-siswi SMA yang telah lolos seleski penerimaan beasiswa Esa Unggul tahap akhir.
Rektor Universitas Esa Unggul Dr.ir. Arief Kusuma, M.B.A menyampaikan sambutannya kepada para orang tua dan siswa yang hadir saat penandatangan beasiswa, ia menerangkan Esa Unggul sangat mengapresiasi potensi siswa-siswi yang memiliki pretasi baik secara akademik maupun non akademik dari seluruh Indonesia.
"Alhamdullilah, bapak-bapak Ibu-ibu dan adik-adik sekalian, hari ini kita melangsungkan proses penandatanganan setelah melakukan berbagai seleski administaritif dan tes, kami telah menetapkan putra-putri ibu sebagai penerima beasiswa kami," terang Arief di Universitas Esa Unggul, Jakarta Barat, Kamis (13/07/2017)
Arief pun menambahkan Beasiswa ini merupakan bentuk perhatian dari Esa Unggul untuk meningkatkan taraf kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia, tidak mengherankan siswa-siswa yang mendapatkan beasiswa berasal dari Sabang hingga Marauke.
"Esa Unggul sebagai Institusi yeng bergerak dalam bidang pendidikan Tinggi menjunjung Tri Dhrama Universitas untuk menghasilkan lulusan yang ke depannya dapat bermanfaat bagi kemajuan bangsa, tidak mengherankan Esa Unggul juga membuka beasiswa dari Indonesia Timur ini bertujuan untuk pemerataan pembangunan, sehingga setelah lulus mereka pulang dan dapat membangunan daerah mereka masing-masing," ucapnya.
Proses penandatangan Beasiswa Yang diikuti oleh Orangtua dan Siswa
Proses penandatangan Beasiswa Yang diikuti oleh Orangtua dan Siswa
Hal ini diamini oleh salah satu siswa yang mendapatkan beasiswa, Kezia Joseph siswa peraih beasiswa Esa Unggul kategori Indonesia Timur. Gadis yang berasal dari SMK kesehatan Ambon ini sangat bersyukur dan bangga karena lolos seleksi beasiswa untuk berkuliah di Esa Unggul. Menurutnya kesempatan ini tak akan disia-siakan olehnya untuk menuntut ilmu di Esa Unggul sehingga nantinya ia dapat pulang dan memabangun daerahnya yakni kota Ambon.
"Saya bersyukur sekali bisa masuk sebagai penerima beasiswa Indonesia Timur, saya tidak menyangka bisa mendapatkan beasiswa ini. Untuk itu, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini karena setelah lulus dari sini saya akan berjanji untuk pulang dan membangun daerah saya, yang masih tertinggal jauh dari daerh lainnya terutama dalam masalah kesehatan,"ujar Kezia.
Kezia yang mengambil jurusan Keperawatan Esa Unggul ini pun menceritakan proses yang dia lakukan sehingga berhasil mendapatkan beasiswa Indonesia Timur Esa Unggul. "Kebetulan kaka tingkat saya di SMK juga kuliah disini, terus dia membagikan informasi mengenai beasiswa Esa Unggul, setelah konsultasi dengan orang tua dan Guru saya pun mengirimkan berkas. Puji tuhan saya lulus dan berhak menerima beasiswa ini," tuturnya.
Sementara itu, Herlinda Rizki Ayuningtyas siswa SMK Bakti Indonesia Pati Jawa Tengah yang mendapatkan beasiswa unggulan 100 persen ini menluapkan kegembiraanya karena telah berhasil mendapatkan beasiswa 100 persen dari jalur prestasi akademik. Siswa yang mengambil Program Studi Ilmu Gizi ini pun berjanji akan menjaga amanah karena diberikan beasiswa secara penuh.
"Insya Allah saya akan menjaga amanah beasiswa yang dijelaskan tadi oleh pak Rektor dan civitas Esa Unggul. Beasiswa ini kan tidak terlepas dari kerja keras saya saat di SMK soalnya saya dari kelas Satu hingga tiga SMK selalu aktif mendaptkan juara. Dan juga saya selalu ikut olimpiade Kimia tingkat Provinsi," ujar Herlinda.
Gadis yang akrab disapa Kiki ini pun menyampaikan harapannya ke depan saat menjadi mahasiswa Esa Unggul. Dirinya akan selalu aktif di organisasi kampus dan menjaga nilai perkuliahan agar dapat stabil dan terus mendapatkan beasiswa hingga lulus nanti.
"Beasiswa ini memotivasi saya untuk maju dalam hal prestasi dan keilmuan yang saya tekuni, sehingga nanti saya dapat pulang dan membangga kedua orang tua. Dan tidak lupa dapat berkontribusi pada pembangunan wilayah. Selain jurusan Farmasi ini kan mahal kalau gak dapat beasiswa disini mungkin tahun ini saya tidak akan berkuliah tahun ini." tutupnya.
Read More..

Senin, 19 Juni 2017

Baitul Gafur, Oase Ditengah Hiruk-Pikuk Kehidupan Kampus


Baitul Gafur, Oase Ditengah Hiruk-Pikuk Kehidupan Kampus





Baitul Gafur, Oase Ditengah Hiruk-Pikuk Kehidupan Kampus
Esaunggul.ac.id, Jakarta Barat, Adzan Dzuhur ketika itu terdengar ke seantero kampus Esa Unggul, ditengah hingar-bingar kehidupan kampus adzan itu menjadi sebuah pelepas dahaga rohani para mahasiswa dan civitas kampus yang tengah menjalani kegiatan keduniawian.
Tak berselang lama, para jamaah tanpa diundang berduyun-duyun menuju asal muasal sumber suara itu yakni bangunan kokoh berbalut cat warna putih kream yang berada di samping gedung C Universitas Esa Unggul. Bangunan yang mengeluarkan suara Adzan itu yakni Masjid Baitul Gafur.
Kebetulan pada hari itu ialah hari Jumat, Masjid Baitul Gafur menggelar sholat Jumat yang diikuti oleh semua kalangan baik masyarkat sekitar kampus maupun para mahasiswa beserta civitas akademis. Tampak, ribuan alas kaki dari berbagai merk dan jenis membanjiri pelataran luar masjid. Suara gemericik air dari para jamaah saat mengambil wudhu pun menjadi pemanis suara ditengah siang hari yang terik itu. Dua ruangan sholat yang berada di lantai atas dan bawah masjid Baitul Gafur terlihat disesaki oleh jamaah yang haus akan siraman rohani dari penceramah jumat.
“Marilah dengan Jumat yang berkah ini, kita sama-sama tingkatkan iman dan taqwa meskipun berbagai kegiatan yang kita lakukan sangat padat namun kita hanyalah hamba Allah yang ditugaskan untuk menyembah Allah,” ujar penceramah Sholat Jumat yang saat itu disaksikan oleh kurang lebih 1000 jamaah itu. Ajakan sholat yang digaungkan oleh suara Iqomah pun mulai berkumandang memberikan isyarat untuk para jamaah segera berdiri mendekatkan diri kepada sang pencipta.
Seketika ucapan Amin pun bergema diseisi masjid saat imam menyelesaikan surah Al-fatihah seolah-olah para jamaah yang kebanyakan merupakan mahasiswa dan civitas Esa Unggul memohon terijabahnya doa-doa mereka. Selepas sholat, para jamaah tidak lupa memanjatkan doa mereka dengan tangan menengadahkan ke langit. Maka selesailah kegiatan sholat jumat pada hari itu.

Sejarah Singkat Baitul Gafur
Ketua masjid Baitul Gafur Muhammad Khaerudin,SE menerangkan inisiasi dari berdirinya masjid di Esa Unggul bermula saat mahasiswa dan civitas menginginkan tersedianya sebuah tempat ibadah sholat yang nyaman, maka pada tahun 1996 dibuatlah sebuah tempat ibadah berupa mushola yang berada di gedung A atau gedung Utama Universitas Esa Unggul.
Dia pun melanjutkan di tahun 2000 mushola lama yang berada di gedung A tidak cukup menampung jamaah yang semakin membludak, sehingga ada permintaan dari mahasiswa dan civitas kepada pihak rektorat untuk memindahkan Mushola ke Aula Kemala. Hingga tahun 2005 kegiatan ibadah Sholat berada di Aula Kemala.
“kira-kira 5 tahun, Mushola dan kegiatan ibadah dipindah ke Ballroom Aula Kemala. Semula memang tidak ada masalah saat dipindahkan ke sana, namun karena di Ballroom juga dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya seperti seminar dan kegiatan keagamaan lainnya, ini menjadikan ruangan mushola menjadi tidak steril untuk sholat, untuk itu saya dan beberapa teman yakni mahasiswa dan akademisi meminta dana untuk pembangunan masjid,” ujar Khaerudin, saat ditemui di ruang Perpustakaan Esa Unggul, Jakarta Barat, Jumat (16/06/2017).
Maka pada tahun 2005 dimulailah pembangunan masjid Baitul Gafur yang semula direncanakan dibangunan didepan kampus sekitar jalan tol Tomang-Kebun jeruk. namun karena kontur tanah yang tidak baik maka pembangunan masjidnya pun diubah tempatnya menjadi di belakang kampus. “Sebetulnya letak masjid Baitul Gafur itu ada didepan dekan jalan tol, namun karena kontur tanahnya kurang bagus maka dipindahkan,” ujarnya.
Berkonsep Taj Mahal
Khaerudin pun menceritakan proses pembuatan masjid Baitul Gafur hingga menjadi tempat ibadah yang saat ini menjadi pusat ibadah dan kajian mahasiswa. Baitul Gafar sendiri berdiri diatas tanah 30X30 meter dan dulunya sempat berkonsep bangunan khas india yakni Taj Mahal.
“Dulunya saat pembangunan kita sempat ingin konsepnya itu seperti Taj Mahal, namun sayangnya kekurangan lahan, seharusnya ada tiang menara satu lagi tapi urung dibangun karena lahannya dibuat tempat parkir,” katanya.
Arsitektur pembangunan masjid ini dibuat oleh Ir.Holiq Raus, salah satu ahli planologi dari Esa Unggul. Holiq yang kala itu dilibatkan dalam konstruksi masjid membuat perhitungan mengenai tata letak dan perhitungan kontur tanah yang cocok untuk dibangun sebuah masjid.
“Arsitektur sendiri dipimpin oleh almarhum Ir.Holiq Raus, pak Holiq Raus ini yang memperhitungkan kontur tanah, sampai meneliti sampai dimanakah cadangan air yang tersedia diatas tanah masjid,” terang Khaerudin.
Pemilihan nama dari Baitul Gafur sendiri, mengambil nama dari pendiri masjid yang juga pendiri Universitas Esa Unggul yakni Dr.Abdul Gafur. “nama Baitul Gafur itu sendiri diambil dari nama pendiri Esa Unggul dan masjid ini yakni Dr.Abdul Gafur, namun Dr. Abdul Gafur sendiri tidak meminta menggunakan namanya, namun kehendak dari kamilah selaku inisiator yang menghargai jasa Dr.Abdul Gafur,” ujarnya
Selain menceritakan mengenai pembangunan masjid, Khaerudin menjelaskan mengenai pemanfaatan masjid Baitul Gafur selama ini. Baitul Gafur bukan hanya dijadikan sebagai tempat ibadah saja, namun lebih besar lagi, masjid bertingkat dua ini menjadi tempat interaksi sosial kepada masyarakat.
“Kami dari pengurus masjid menargetkan pemanfaatan Baitul Gafur bukan hanya tempat Hablul minallah saja atau hubungan dengan masalah akhirat saja, namun secara luas habluminnas dari kegiatan masjid pun digalakkan. terbukti sampai saat ini kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, khitanan masal, kajian fikih dan lainnya terselenggara,” tuturnya.
Ia pun berharap nantinya Baitul Gafur dapat menjadi tempat peningkatan iman dan takwa serta pendidikan agama baik bagi mahasiswa maupun bagi civitas kampus. Ditambah, mudah-mudahan Baitul Gafur dapat mencetak lulusan-lulusan berkulitas baik secara IMTAQ maupun secara keilmuan umum.
“Baitul Gafur ini bukan sekedar tempat ibadah namun bisa menjadi institusi pendidikan rohani bagi siapa saja yang aktif di dalamnya, sejak pembangunan masjid ini telah banyak alumninya yang aktif di IKMI (Ikatan Keluarga Masjid Indonusa) UKM yang mengisi kegiatan masjid telah terjun dan bermanfaat ke masyarakat,” Khaerudin Menandaskan.

Read More..

Realted Posts